PINDAIINDONESIA.COM — Rodrigo Duterte menghadiri persidangan di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) Den Haag untuk pertama kalinya secara langsung sejak ditangkap di Manila 18 bulan lalu. Mantan presiden Filipina berusia 81 tahun itu diadili atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait perang melawan narkoba yang menewaskan puluhan ribu orang.
Duterte mengenakan setelan jas gelap dan kemeja putih saat memasuki ruang sidang pada Rabu. Ia tidak menyampaikan pernyataan apa pun selama persidangan, namun terlihat melambaikan tangan kepada anggota keluarganya yang duduk di galeri pengunjung setelah sidang berakhir.
Mantan pemimpin Filipina itu telah ditahan di Den Haag sejak Maret 2025. Sebelumnya, ia mengikuti proses persidangan melalui sambungan video dan beberapa kali absen dari jadwal yang ditetapkan.
Perdebatan Kesehatan dan Kelayakan Mengikuti Sidang
ICC menggelar sidang status untuk menilai apakah Duterte secara mental layak menjalani proses hukum. Tim pembelanya berargumen kondisi kesehatan klien mereka terus memburuk.
Pengacara Duterte, Peter Haynes, menyatakan kepada pengadilan bahwa kliennya mengalami "gangguan daya ingat yang signifikan", sehingga tidak mampu berkomunikasi dan berkoordinasi secara memadai dengan tim pembelanya. Jaksa penuntut membantah klaim tersebut.
Para hakim telah memerintahkan pemeriksaan medis oleh tiga dokter spesialis. Hasilnya belum dipublikasikan. Menurut kantor berita AFP, tim pembela menyebut laporan itu menunjukkan Duterte meyakini dirinya masih hidup pada 2007 atau 2008, mengira usianya 84 atau 85 tahun, serta tidak mampu mengingat nama Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Perang Narkoba dan Rentang Penyelidikan ICC
Perang melawan narkoba menjadi kebijakan utama pemerintahan Duterte yang berkuasa dari 2016 hingga 2022. Ia berulang kali berpendapat bahwa penegakan hukum keras diperlukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban demi mendukung pertumbuhan ekonomi.
ICC menyelidiki kasus-kasus pembunuhan sejak 1 November 2011, saat Duterte masih menjabat wali kota Davao, hingga 16 Maret 2019 ketika Filipina resmi menarik diri dari keanggotaan ICC. Dakwaan mencakup dugaan eksekusi tanpa proses hukum terhadap puluhan ribu pengedar dan pengguna narkoba skala kecil.
Pada 2019, saat masih menjabat presiden, Duterte mengungkapkan bahwa dirinya menderita myasthenia gravis, penyakit autoimun yang mengganggu fungsi saraf dan otot. Ia terpilih pada 2016 di usia 71 tahun, menjadi presiden tertua dalam sejarah Filipina saat memenangkan pemilihan.
Keluarga Korban Ikuti Sidang dari Manila
Keluarga korban yang tewas dalam kampanye antinarkoba mengikuti jalannya persidangan melalui siaran langsung di Manila. Llore Pasco, yang kehilangan dua putranya, mengatakan kepada Reuters: "Kami senang dia akhirnya hadir dan tampak baik-baik saja. Bahkan, dia terlihat bertambah berat badan."
Randy Delos Santos, yang kehilangan keponakannya yang masih remaja pada 2017, menyatakan kepada AFP bahwa ia senang melihat Duterte hadir di pengadilan. "Kami berharap kondisi fisiknya yang masih cukup baik dapat membantu mempercepat jalannya persidangan," ujarnya.
Perseteruan Politik Keluarga Duterte dan Marcos
Keluarga Duterte saat ini terlibat perebutan pengaruh politik yang sengit untuk mempertahankan kendali atas kekuasaan di Filipina. Putrinya, Wakil Presiden Sara Duterte, terlibat perseteruan terbuka yang kian memanas dengan Presiden Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr.
Retaknya aliansi politik Duterte-Marcos, yang mengantarkan keduanya meraih kemenangan telak dalam pemilu 2022, membuka jalan bagi penangkapan Rodrigo Duterte di Bandara Manila pada Maret 2025. Sara Duterte kini menjadi salah satu kandidat terkuat untuk menggantikan Marcos pada pemilihan presiden 2028.
Namun, Sara Duterte juga tengah berjuang mempertahankan masa depan politiknya melalui proses pemakzulan yang sedang berlangsung. Jika dinyatakan bersalah, ia akan didiskualifikasi dari pencalonan untuk jabatan publik. Tuduhan yang dihadapinya mencakup penyalahgunaan dana publik serta ancaman untuk membunuh Presiden Marcos, Ibu Negara Liza Araneta-Marcos, dan sepupu presiden yang juga anggota Kongres, Ferdinand Martin Romualdez.
Sidang perdana dalam kasus Rodrigo Duterte dijadwalkan berlangsung pada 30 November mendatang.